Segera Respon, Presiden: Fitnah Hoaks Jangan Dianggap Ringan

0
82

BERITA JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan, bahwa ghibah, hoaks dan kabar-kabar fitnah bisa meresahkan masyarakat dan bisa memecah belah bangsa kalau tidak direspon dengan cepat.

“Jangan dianggap hal yang ringan karena menyangkut keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” tegas Presiden Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Kamis (28/2/2019) siang.

Menurut Jokowi, banyak logika yang tidak masuk terkait hoaks-hoaks itu seperti bahwa Pemerintah akan melegalkan kawin sejenis.

“Coba, masya Allah logikanya nggak masuk. Negara kita ini adalah negara yang sangat menghargai norma-norma agama, nilai-nilai agama. Apalagi isu azan tidak boleh. Ini apalagi,” ujar Presiden Jokowi.

Dikatakan Jokowi, dari hasil survei 9 juta orang percaya mengenai kabar-kabar hoaks dan fitnah. Selama 4 tahun diam, tapi setelah melihat hasil penelitian ternayata sangat berbahaya kalau tidak direspon.

“Yang percaya 9 juta, didiamkan jadi 15 juta, didiamkan jadi 30 juta, didiamkan jadi 50 juta. Jadi berbahaya sekali,” tegas Jokowi.

Termasuk sambung Jokowi, hal berkaitan dengan dirinya pribadi, Presiden menunjuk hoaks dirinya itu PKI. Ada lagi antek aseng dan juga isu dirinya anti Islam, anti Ulama.

“Lho, saya terus terang aja bingung. Lha yang tandatangan Hari Santri itu siapa. Kalau anti Islam, anti Ulama ya nggak mungkin Hari Santri saya tandatangani. Saya masukkan ke laci saya aja udah,” sindir Jokowi.

Presiden Jokowi mengemukakan, tiap hari dirinya juga dengan Ulama, tiap minggu keluar masuk Pondok Pesantren, dengan Santri dengan Ulama. Tapi ya itu waktu dirinya  mau pulang pamit, Pak Kiai bertanya kabar mengenai PKI itu.

“Saya sampaikan tadi, Pak Kiai lahir saya tahun 61, PKI dibubarkan tahun 65-66, umur saya baru empat tahun. Beliau langsung kaget Astaghfirullah, bener Pak Presiden ya, kok saya nggak mikir seperti itu,” ungkap Presiden Jokowi menirukan respon dari Kiai dimaksud.

Menurut Presiden Jokowi, mungkin juga ada banyak Kiai yang percaya mengenai itu tapi nggak berani bisik-bisik. Karena menurutnya, 9 juta itu jumlah yang sangat banyak sekali.

Negara Besar

Sebelumnya, di hadapan peserta Halaqah Ulama dan Pimpinan Pondok Pesantren Jawa Barat Tahun 2019, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa Indonesia adalah Negara dengan penduduk muslim terbesar dunia.

“Ini selalu saya sampaikan di konferensi-konferensi besar dunia. Bahwa di dalam pembukaan pasti saya sampaikan, Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar didunia.,” ungkap Presiden.

Kita, lanjut Presiden, juga dianugerahi Allah SWT berbeda-beda. Sudah menjadi sunnatullah, sudah menjadi hukum Allah bahwa kita ini berbeda-beda. Baik suku, baik agama, baik adat, baik tradisi, baik budaya, baik bahasa daerah beda-beda.

Jangan sampai tambah Jokowi, karena urusan politik, urusan pilihan Bupati, urusan pilihan Gubernur, urusan pilihan Walikota, naik lagi urusan pilihan Presiden yang setiap lima tahun itu pasti ada terus, kita merasa tidak menjadi saudara. Kita tidak rukun. “Akan sangat rugi besar gara-gara politik kita masuk ke ruangan tadi,” tutur Jokowi.

Oleh sebab itu, Presiden Jokowi mengajak kepada para ulama untuk menyampaikan kepada masyarakat, menyampaikan kepada lingkungannya, menyampaikan kepada santri-santrinya, baik dalam majelis ta’lim, dalam majelis-majelis yang lebih besar untuk menjaga merawat persatuan kita, merawat kerukunan kita, merawat persaudaraan kita, merawat ukhuwah kita.

“Baik Ukhuwah Islamiyah maupun Ukhuwah Wathaniyah kita, sebagai saudara sebangsa dan setanah air,” pungkas Presiden Jokowi.

Tampak hadir dalam kesempatan itu antara lain Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, dan Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki. (RSF/RAH/ES)