Cerita Pilu Mantan Ketua RW di Bekasi Jadi Terpidana

0
61
Mantan RW014, H. Toto Irianto (Kanan) Bersama BE.com

BERITA BEKASI – H. Toto Irianto merupakan mantan Ketua RW014, Perumahan Bulak Kapal Permai, Kelurahan Jatimulya, Kecamatan Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Diusianya yang sudah senja berumur 70 tahun, H. Toto sudah merasakan pahitnya jeruji besi sel penjara meski selama 2 bulan 22 hari.

Kepada Beritaekspres.com, H. Toto mengungkapkan, kepahitan yang sangat dirasakannya ketika sang istri yang setia mendampinginya berpulang kepangkuan sang pencipta, karena sakit memikirkan dirinya selama berada dalam penjara untuk menjalani proses hukum yang melilitnya buntut dari mempertahankan lokasi lahan fasilitas sosial dan fasilitas umum (fasos-fasum) yang berada dilingkungan perumahnnya.

“Saya juga bingung kenapa saya bisa dipidana, karena lahan yang diakui pihak yang melaporkan saya ke polisi itu jelas tercatat bahwa lokasi lahan tersebut merupakan lahan milik Pemerintah Kabupaten Bekasi berupa lahan fasos-fasum dari pihak pengembang perumahan,” terang H. Toto, Rabu (18/9/2019).

Persoalan itu bermula sambung H. Toto, tiba-tiba ada sekelompok orang ingin menguasai lokasi lahan fasos-fasum yang sudah timbul 2 sertifikat SHM No.8793 luas tanah 2.910 M2 dan SHM 8794 luas tanah 5.240 M2 atas nama Bhoen Herwan Irawadim yang lahir dari Akta Jual Beli (AJB) No. 76.ABP.23/V/1988 tertanggal 12 Januari 1988.

“Padahal setelah kita telusuri ternyata AJB yang melahirkan 2 sertifikat itu mulai dari Sekel sampai Camat setempat tidak pernah menandatangani AJB tersebut sesuai pengakuannya ketika diperiksa di Polda Metro Jaya dimana laporan saya bersama tim warga hingga kini tidak pernah ditindaklanjuti bahkan berbalik malah saya yang jadi terpidana,” ungkapnya lirih.

H. Toto mengingat, ketika lokasi tanah itu sampai dibahas di DPRD Kabupaten Bekasi, BPN berucap bahwa mereka kecolongan atas lokasi lahan fasos-fasum yang kini sudah menjadi 2 sertifikat SHM yang diduga lahir dari adanya rekayasa data dari oknum-oknum tertentu yang ingin memiliki lokasi lahan fasos-fasum perumahan yang sudah jadi milik Pemerintah tersebut.

“Anehnya, meski Bhoen Irwan Irawadim sudah mengaku di Polda bahwa pernah disodorkan kertas segel kosong oleh seseorang berinisial RL untuk ditandatangani tidak menjadi pertimbangan penyidik Polda. Begitu juga dengan pengakuan Sekel dan Camat yang tidak pernah menandatangani AJB itu. Malah prosesnya berhenti tidak berlanjut sampai sekarang,” ucapnya bingung.

Lebih herannya lagi lanjut H. Toto, kenapa giliran laporan dari pihak mereka langsung ditanggapi dan diproses, tapi ketika laporan kita sebagai warga yang ingin menyelamatkan asset pemerintah berupa lokasi lahan fasos-fasum yang berguna untuk kepentingan warga selalu kandas bahkan pernah tidak ditanggapi.

“Kita laporkan bahwa ada pemalsuan serta gugatan class action dari sekelompok warga perumahan yang ingin mempertahankan lokasi lahan fasos-fasum milik pemerintah itu, tapi gerakan itu malah berbalik menjadikan saya tersangka hingga menjadi terpidana selama 2 bulan dan 22 hari dibalik jeruji besi,” ucapnya.

Ternyata serangan itu lanjut H. Toto belum berhenti karena sekarang ada pihak lain lagi yang merasa sudah membeli lokasi lahan itu melaporkan Ketua RW014 yang sekarang dijabat Sutaryo Teguh mengantikan dirinya ke Polres Metro Kabupaten Bekasi yang kini pun sudah menyandang setatus sebagai tersangka sama seperti yang dialaminya hingga menjadi terpidana.

Pada waktu dilaporkan Pasal 385 KUHP tentang Penggelapan, namun pada saat pelimpahan tahap ke-2 ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Cikarang, muncul pasal siluman yakni Pasal 378 tentang Penipuan. Anehnya, pada dakwaan Jaksa masih ada Pasal 378.

Begitu saat penuntutan kata H. Toto, Pasal 378 KUHP tidak muncul alias hilang, sehingga ia menduga bahwa Pasal 378 KUHP hanya pemaksaan agar dapat penahanan dirinya sebelum proses persidangan. “Jaksa Kejari Cikarang Kabupaten Bekasi, menuntut selama 1 tahun 8 bulan penjara, namun Hakim Pengadilan Negeri Bekasi memutuskan saya dihukum 2 bulan 22 hari,” jelasnya.

Setelah saya dipenjarakan tambah, H. Toto, sekarang Ketua RW014 yang baru menjabat mengantikan dirinya kini pun sudah menjadi setatus tersangka. “Ngak ada yang mau menolong dan peduli dengan kami disini atas kezholiman yang dimana katanya bahwa hukum itu sekarang diawasi dan ditegakkan,” imbuhnya.

H. Toto pun berharap ada keadilan yang memihak dan melihat keadaannya kami disini, karena saat ini, kami masih terus didesak dan dipidanakan. Bahkan ada beberapa warga pun akan dipolisikan karena sempat menghalangi pemaggaran yang akan dilakukan pihak yang mengaku sebagai pemilik lokasi lahan yang sah.

“Saya berharap suara dan keluhan kami disini didengar oleh instansi hukum terkait dan bahkan ke Presiden Joko Widodo agar dapat memberikan kami keadilan, memberikan kami perlindungan hukum sebagai warga negara yang baik dan taat hukum. Tolong kami pak Presiden kami adalah korban kezholiman,” pungkasnya.

Sekedar untuk diketahui, jauh sebelum H. Toto menjadi Ketua RW014, Perumahan Bulak Kapal Permai, Kelurahan Jatimulya, Kecamatan Tambun, Kabupaten Bekasi, tahun 2010 diatas lokasi lahan tersebut sudah berdiri bangunan Mesjid dan Kantor RW, sehingga membingungkan tuduhan penggelapan atau penipuan seperti yang dijeratkan kepada H. Toto Irianto. (Indra)