Potensi Ternak Kerbau di Bumi Flobamora NTT

0
275
Frengky Sele

PROVINSI Nusa Tenggara Timur (NTT) yang lebih dikenal dengan nama Flobamora merupakan salah satu Provinsi diujung timur Indonesia yang termasuk dalam gugusan Kepulauan Sunda Kecil.

Kondisi wilayah Provinsi NTT yang memiliki iklim kering dan curah hujan yang sedikit dengan savana (padang rumput) yang luas menyebabkan wilayah Provinsi NTT menjadi lokasi yang cocok untuk budidaya ternak.

Karena itu, tidak mengherankan jika Provinsi NTT dikategorikan sebagai salah satu Provinsi dengan lumbung ternak terbesar di Indonesia. Di antara berbagai jenis ternak, salah satu hewan ternak yang dibudidayakan dan  menjadi komoditas unggulan di Provinsi NTT adalah kerbau.

Kerbau (Bubalus Bubalis) adalah salah satu binatang ruminansia yang banyak di kembangkan di Indonesia. Berdasarkan tempat hidupnya, kerbau dibagi menjadi dua yaitu kerbau rawa/lumpur (swamp buffalo) yang dikenal sebagai kerbau tipe potong dan kerbau sungai (riverine buffalo) sebagai kerbau tipe  perah. 

Menurut Ditjen PKH, kerbau yang ada di Nusa Tenggara Timur umumnya adalah kerbau rawa/lumpur (swamp buffalo).

Manfaat Daging Kerbau

Di bandingkan ternak lain seperti sapi, kerbau memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi. Kerbau memiliki jumlah produksi daging yang lebih tinggi dibandingkan dengan sapi karena memiliki jumlah karkas yang besar.

Daging  kerbau memiliki kalori, lemak dan kolesterol yang rendah dari sapi. Dari segi bubidaya, kerbau juga dapat mengonsumsi pakan dengan kualitas rendah namun produksi yang dihasilkan akan tetap optimal.

Selain itu, kerbau mudah beradaptasi dengan  lingkungan. Beberapa contoh pemanfaatan kerbau dalam kehidupan masyarakat di NTT yaitu kerbau juga dapat digunakan untuk membajak sawah  dan membawa barang (biasanya hasil pertanian).

Di beberapa daerah seperti Sumba dan Manggarai menggunakan Kerbau sebagai mahar atau “belis” dalam pernikahan.

Populasi  dan Produksi Kerbau di NTT

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, populasi kerbau di NTT tahun 2015 sebanyak 141.075 ekor, tahun 2016 sebanyak 156,927 ekor, tahun 2017 sebanyak 162.658 dan tahun 2018 diperkirakan sebanyak 165.551 ekor.

Terlihat bahwa setiap tahun terjadi kenaikan jumlah populasi kerbau. Peningkatan tersebut merupakan hasil dari karena ada dukungan dan program pemerintah contoh penguatan pangan dan pelarangan pemotongan kerbau betina produktif.

Terlihat bahwa populasi kerbau pada tahun 2018 berhasil menempatkan Provinsi NTT pada posisi ke-2 dengan jumlah populasi kerbau terbanyak di Indonesia (12,2 % dari total populasi kerbau Indonesia) setelah Provinsi Aceh  kemudian diikuti oleh Provinsi Sulawesi Selatan.

Jika dilihat dari kontribusi beberapa kabupaten terhadap total populasi kerbau di NTT pada tahun 2017, maka sumbangan terbesar berasal dari Kabupaten Sumba Timur sebesar 38.230 ekor (23,5 %), diikuti Kabupaten Manggarai Barat sebesar 18.289 ekor (11,24 %) pada posisi ke-2.

Di posisi ke-3 Kabupaten Sumba Barat Daya sebesar 14.857 ekor (9,13%) dan diikuti Kabupaten Ngada sebesar 13.887 (8,5 %).

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik produksi daging kerbau di NTT tahun 2015 sebanyak 1.482 ton, tahun 2016 sebanyak 1.504 ton, tahun 2017 sebanyak 1.475 ton dan tahun 2018 diperkirakan sebanyak 1.468 ton.

Dapat di lihat bahwa sepanjang periode tersebut, produksi daging kerbau cenderung bersifat fruktuatif. Pada tahun 2018, produksi daging kerbau sebanyak 5,79 % dari total produksi daging kerbau di Indonesia.

Jika dibandingkan dengan Provinsi lain misalnya Provinsi Sulawesi Selatan, jumlah produksi daging kerbau di NTT, 2 kali lebih rendah di mana Provinsi Sulawesi Selatan mampu memproduksi 3.243 ton daging kerbau atau sekitar 13,91% dari total produksi daging kerbau di Indonesia.

Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa sebagian besar peternakan kerbau di  NTT masih didominasi oleh peternakan rakyat.

Penyebab lainnya yaitu konsumsi daging kerbau di NTT masih rendah. Masyarakat tidak memiliki kebiasaan untuk mengonsumsi daging kerbau dan kerbau lebih banyak digunakan untuk membajak sawah.

Oleh karena itu, Pemerintah harus melakukan kebijakan yang berfokus pada peningkatan kualitas usaha-usaha rakyat. Kebijakan-kebijakan yang telah dilakukan sebelumnya dapat dilanjutkan. Pemerintah juga perlu mensosialisasikan tentang manfaat dari daging kerbau.

Pemerintah  juga perlu mengambil kebijakan seperti melestarikan populasi ternak kerbau  dengan pengadaan bibit unggul, pengadaan pakan ternak yang berkualitas, melakukan upaya pengendalian penyakit, meningkatkan SDM peternak seperti dibina dalam pelatihan, mendorong usaha rakyat menjadi usaha dengan skala menengah dan skala besar dengan memberikan modal, dan membuat kebijakan yang tidak menghambat pertumbuhan di sektor peternakan.

Flobamora, 30 Oktober 2019

Oleh: Frengky Sele