Fransiska: Aneh..!!!, Putusan Majelis Hakim PN Jakpus Berlawanan

0
273
Fransiska Kumalawati Susilo

BERITA JAKARTA – Dengan raut wajah yang agak kusut, Fransiska Kumalawati Susilo, menyampaikan kejanggalan–kejanggalan dari keputusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat yang menolak gugatannya terhadap suaminya, Direktur Ortus Holding Ltd, Edward Soeryadjaya, Kamis (21/11/2019) lalu.

Dalam putusan itu, Majelis Hakim menilai, Fransiska telah bercerai dengan Edward Soeryadjaya, sehingga tidak lagi memiliki kapasitas untuk menggugat, Edward, Edwin Soeryadjaya, Joyce Soeryadjaya dan Judith Soeryadjaya.

Diungkapkan, Fransiska, putusan itu, hanya bermodal menunjukan sebuah surat pernikahan seseorang yang bernama, Xie Chong Seng atau Edward Seky Soeryadjaya dengan seorang wanita bernama, Atilah Rapatriati di Singapura tahun 2002 yang ditandatangani di Grand Plaza Park Royal.

“Setahu saya itu nama sebuah Hotel, bukan nama orang. Coba diperhatikan, tidak ada pengesahan dari KBRI Singapura. Jadi Majelis Hakim memutuskan hanya, karena surat bukti pernikahan dari Singapura lalu saya dianggapnya sudah bercerai dengan, Edward,” tegas Fransiska kepada Beritaekspres.com, Minggu (24/11/2019).

Dalam surat pernikahan di Singapura itu kata Fransiska, sangat janggal karena memakai nama Mandarin, Xie Chong Seng. Padahal, suaminya, Edward mempunyai surat ganti nama yang melekat dengan surat ganti nama orang tuanya yaitu, Wiliam Soeryadjaya sebagai pendiri Astra tahun 1967 dengan marga Tjia dan bernama Tjia Han Sek.

Selain itu lanjut Fransiska, berdasarkan surat keterangan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) bahwa status perkawinan antara Fransiska dan Edward belum berubah sampai sekarang. Bahkan, pihak Disdukcapil, telah menyampaikan keterangan tersebut di persidangan.

Fransiska pun mengaku, memiliki surat pernyataan Edward yang mengatakan, bahwa dirinya masih berumah tangga dengannya. Surat bermaterai yang ditandatangani Edward itu dibuat pada 20 Januari 2012 yang menjadi dasar, Edward Soeryadjaya mengajukan Surat penetapan yang dikeluarkan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat bernomor:36/pdt.P/2013/PN.JKT.PST yang sangat jelas dituliskan dalam halaman 1 dan 2.

“Bahwa Pemohon adalah benar suami istri sah sebagaimana diterangkan dalam surat laporan perkawinan Nomor 103/perkawinan LN/06/2009. Jadi seolah-olah surat penetapan Pengadilan Jakarta Pusat 2013, dianggap tidak sah oleh Pengadilan Jakarta Pusat sendiri?. Bingung saya jadinya?. Aneh,” tegas Fransiska.

Dikatakan Fransiska, Majelis Hakim sepertinya hendak menyebut bahwa petugas Disdukcapil yang menyampaikan keterangan di persidangan telah memberikan kesaksian palsu atau berbohong dan tidak menghargai atau menghilangkan wewenang dari beberapa kantor Badan Negara.

“Surat penetapan yang dikeluarkan oleh Pengadilan Jakarta Pusat saja tidak dianggap sah, apa lagi surat-surat dari Badan Negara lainnya.?,” ulas Fransiska.

Dengan ditolaknya gugatannya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Fransiska akan terus mencari kebenaran agar rakyat awam tidak mengalami hal yang sama.

“Bilamana Majelis Hakim menganggap, saya sudah bercerai, lalu mana surat cerai saya?. Dan Hakim seharusnya memperlakukan Undang-Undang Hukum di Indonesia,” imbuh Fransiska.

Fransiska menceritakan, bahwa dirinya baru tahu adanya 3 perjanjian yang diperkarakan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat langsung dari ibu kandung Edward Soeryadjaya yakni, Lilik Soeryadjaya yang memberikan kuasa untuk meminta hak-hak yang di waris kan, William Soeryadjaya yang telah dilaporkan di Polda Metro Jaya, tapi sepertinya karena interfensi laporan tersebut didiamkan.

“Padahal, saya juga masih membatu suami saya, Edward Soeryadjaya mengurus permasalahannya dengan Sandiaga Uno, sebelum Edward ditahan oleh Kejaksaan, karena saya masih merasa bahwa dia distatus masih suami saya,” pungkasnya. (Yon)