RS. Tiara Banyak Dikeluhkan, Agus Budiono: Menkes Harus Evaluasi

0
3579
RS. Tiara

BERITA BEKASI – Banyak dikeluhkan warga pasien, RS. Tiara di Jalan Raya Babelan No.63, Kelurahan Kebalen, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, dinilai tidak ramah dalam memberikan pelayanan dan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Hal itu diungkapkan, salah satu kerabat pasien Akhmadi yang meninggal dalam perjalanan menuju RS. Tiara, Selasa (3/12/2019).

“Gimana ngak kurang ramah itu pasien yang meninggal barusan merupakan pegawai honor Kelurahan setempat. Meninggalnya juga dalam perjalanan, bukan di RS. Tiara, tapi kena juga biaya konsultasi apalagi cuma Rp150 ribu ngak mau seri mana manajemennya ketus banget lagi,” kata Woro.

Dikatakan Woro, sebelumnya dia dihubungi rekan Asti sesama pegawai Kelurahan setempat bahwa rekan mereka Akhmadi meninggal dunia dalam perjalanan menuju RS. Tiara. Tiba diruang Unit Gawat Darurat (UDG), Akhmadi sempat dipasang alat pendeteksi jantung namun kembali dilepas, karena sudah dipastikan tidak bernyawa lagi.

“Bukan masalah Rp150 ribunya, tapi sikap manajemen RS. Tiara ketika kita menanyakan hal itu jawabnya ketus meski sudah saling mengenal. Lagian orang sudah meninggal apa yang dikonsultasikan mungkin hanya bertanya masuknya konsultasi. Itu yang meninggal orang cuma honor Kelurahan. Orang ngak mampu dan warga lingkungan juga orang pelayan masyarakat setempat,” ungkapnya.

Woro pun berharap, RS. Tiara harus kenal lingkungannya tahu bersikap dan ada sedikit kepeduliannya dengan lingkungan, karena selama ini, banyak keluhan masyarakat khususnya warga sekitar tentang pelayanan RS. Tiara, termasuk warga lingkungan RT01 tempat tinggalnya pernah mengeluhkan pelayanan RS. Tiara sampai pihak keluarganya mengendong sendiri pasiennya untuk pindah RS lain.

“Kalau mau dirinci apa aja keluhan masyarakat itu banyak banget, nanti kalau saya rinci bisa kena ITE lagi saya dilaporkan pihak RS. Tiara pencemaran nama baik, tapi begitulah kenyataannya. Untuk kegiatan lingkungan aja RS. Tiara itu susah untuk peduli, apalagi mau ngasi gratis pertolongan kayanya ngak mungkin,” tandas Woro.

Menanggapi hal itu, Tim Hukum LSM Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) Distrik Kota Bekasi, Agus Budiono mengatakan, bicara keluhan pelayanan RS. Tiara bukan hal baru, tahun 2014 pernah nendang bangku ketika membantu anak pasien yang tidak mendapatkan kebijakan agar segera mendapatkan pelayanan.    

“Waktu itu anak umur 14 bulan anak dari pasangan, Saipul Hikban Hasibuan dan Supriatin. Akhirnya, harus merelakan kepergian putra satu-satunya, Zikri Hilman Hasibuan diruang UGD akibat tak bisa memberikan uang jaminan untuk rawat inap di RS. Tiata,” ungkap Agus.

Ketika itu lanjut Agus, pihak RS. Tiara memintanya membayar uang jaminan rawat inap sebesar Rp4 juta. Namun, Saipul hanya sanggup membayar jaminan Rp2 juta. Akibatnya, pihak RS. Tiara tidak memberikan rawat inap terhadap putranya yang panas tinggi, sehingga meninggal dunia.

“Jadi, kalau bicara RS. Tiara itu dari dulu. Harusnya sudah dievaluasi itu manajemennya, karena sudah cukup banyak keluhan tentang pelayanan RS. Tiara Bekasi. Kemana pihak terkait atau Kementerian Kesehatan untuk meninjau kembali izin operasi RS. Tiara karena kurang keprikemanusiaan,” pungkas Agus. (Indra)