Tahap Pertama, Kemenaker: 151 Ribu Pekerja Belum Dapat BLT

0
214
Ilustrasi BLT Pekerja

BERITA JAKARTA – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat masih ada 151.123 pekerja bergaji dibawah Rp5 juta yang belum menerima bantuan subsidi upah atau BLT penyaluran tahap pertama. Jumlah tersebut sekitar 1,21 persen dari target penerima BSU tahap pertama sebanyak 12.403.896 pekerja.

“Data update per 23 November 2020, realisasi penerima bantuan gelombang I sebanyak 12,2 juta orang, dan yang belum dapat disalurkan 151 ribu orang,” kata Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziah dalam rapat bersama Komisi IX DPR RI, Rabu (25/11/2020).

Ida mengakui ada sejumlah kendala dalam penyaluran program BSU kepada pekerja bergaji di bawah Rp5 juta. Terutama, kata dia, banyaknya rekening calon penerima bantuan yang bermasalah mulai dari duplikasi data, rekening yang sudah tutup, rekening tidak valid, hingga rekening yang telah dibekukan.

“Ada juga rekening calon penerima yang tidak sesuai dengan data yang dimiliki BPJS Ketenagakerjaan,” ungkapnya.

Karena itu lah, sambung Ida, selama proses pencairan Kemenaker terus berkoordinasi dengan KPK, BPK dan BPKP untuk memastikan bahwa penyaluran telah memenuhi prinsip good governance.

“Ini kendala dan data yang dikirim BPJS Ketenagakerjaan tidak lengkap. Ada pengaduan, masyarakat ingin mengetahui status calon penerima bantuan. Karena itu kami koordinasikan dengan BPJS Ketenagakerjaan untuk menindaklanjuti rekomendasi KPK,” terangnya.

Kendati demikian Ida menerangkan hingga saat ini Kemenaker terus melanjutkan penyaluran BSU kepada pekerja yang datanya telah tervalidasi.

Untuk penyaluran tahap II, tambah Ida, BSU telah tersalurkan kepada 5.928.001 penerima atau 53,63 persen dari target 11.052.859 penerima. Dengan demikian untuk tahap kedua masih ada 3.036 pekerja yang belum menerima bantuan.

“Realisasi penerima gelombang II sampai 23 November sebanyak 5,9 juta orang dan belum dapat tersalurkan 3 ribu orang. Anggaran terealisasi gelombang II sebesar Rp7,1 triliun dari target anggaran Rp13,2 triliun,” tandasnya. (Stave)