Soal Kasus Korban Disetubuhi, Didit: Ingatkan Polres Konsep Polri Presisi

0
245
Ilustrasi

BERITA BEKASI – Pengamat Kebijakan Publik Bekasi, Didit Susilo, menanggapi kabar dipolisikannya anak salah seorang dari Anggota DPRD Kota Bekasi asal Gerindra ke Polres Metro Bekasi Kota melalui LP: STPL/971/K/IV/2021/SPKT/Restro Bks Kota, Senin (12/4/2021) kemarin.

Kepada Beritaekspres.com, Didit mengatakan, kasus tersebut juga harus dilaporkan ke Unit PPA Dinas Perlindungan Anak dan Perempuan Kota Bekasi, KPAI Kota Bekasi, KPAI Pusat, Komnas Perlindungan Anak dan Perempuan, LBH APIK, YLBHI dan LPSK.

“Hukum tidak pandang itu anak siapa dan latarbelakangnya. Hukum tidak pandang bulu Equality Bifore The Law. Pelaku, harus mempertanggungjawabkan perbuatannya,” kata Didit, Selasa (13/4/2021).

Perbuatan pelaku, lanjut Didit, dijerat dengan Pasal 81 Ayat (1), Pasal 81 Ayat (2), pasal 82 Ayat (1) UU RI Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas UU RI No. 23 Tahun 2002.

“Pasal 76D dan 76E, tentang perlindungan anak dan UU RI No.35 Tahun 2014, tentang Perubahan Atas UU RI No. 23 Tahun 2002, tentang Perlindungan Anak dengan diancam hukuman paling lama 15 tahun penjara,” jelasnya.

Selain itu, Didit juga berharap Polres Metro Bekasi Kota, tentang konsep menuju Polri Presisi yakni, abreviasi dari PREdiktif, responSIbilitas dan transparanSI berkeadilan, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian tetap terjaga dalam melindungi masyarakat.

“Sebelumnya, juga ada laporan dugaan asusila yang dilakukan Lurah Pekayon terhadap prempuan pelayan warung kopi yang sampai sekarang tidak tahu seperti apa perkembangan kasusnya. Semoga, kali ini Polres Metro Bekasi Kota lebih serius menanggapinya,” tandas Didit.

Sebelumnya, ayah korban anak dibawah umur yang disetubuhi AT (21) anak dari salah seorang Anggota DPRD Kota Bekasi asal Gerinda, DD menyatakan akan menuntut hukum berdiri tegak dan tidak pandang bulu demi keadilan.

Dikatakan DD, usianya anaknya baru menginjak 15 tahun yang masih dalam keadaan labil berbeda dengan usia dewasa yang tahu dan sadar akan perbuatannya. Sementara, AT sendiri sudah beristri dan memiliki seorang anak.

“Bapaknya sebagai wakil rakyat di Kota Bekasi harusnya tahu mendidik anaknya dengan baik dan jangan sampai membuat hal yang memalukan, seperti narkoba, setubuhi anak gadis orang dan kasus kekerasan,” sindirnya.

Sementara itu, ibu korban, Laely mengungkapkan, dirinya baru mau mengetahui setelah anak gadisnya jarang pulang kerumah dengan alasan dapat kerjaan disebuah toko dan ngekos bareng sama temannya.

“Tapi, saya lama-lama curiga. Kerja ditoko bisa ngekos memang digaji berapa?. Akhirnya, saya coba cari-cari tahu,” katanya.

Ngak tahunya, tambah Laely begini kejadiannya anaknya malah jadi korban rayuan seorang laki-laki beristri dan beranak satu yang menginapkan anaknya disebuah tempat kos-kosan di daerah Rawalumbu, Kota Bekasi.

“Selain sudah menyetubuhi anak saya, AT juga suka melakukan aksi kekerasan. Jadi pantas aja anak saya jadi korban. Intinya, saya minta kasus ini segera diproses hukum,” pungkasnya. (Edo/Indra)