Pengamat Kamtibmas Apresiasi Tim Satgas TNI-Polri Madago Raya

0
86
Tim Satgas Gabungan TNI-Polri Madago Raya berhasil menewaskan Ali Kalora yang diduga sebagai pimpinan Teroris Poso sekaligus pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Desa Antina Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah pada 18 September 2021 pukul 18.15 WITA (Foto: Istimewa)

BERITA JAKARTA – Pengamat Kamtibmas Irjen Pol (Purn) Dr H Anton Charliyan mengapresiasi Tim Satgas Gabungan TNI-Polri Madago Raya atas keberhasilannya menewaskan Ali Kalora yang diduga sebagai pimpinan Teroris Poso sekaligus pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) beberapa hari yang lalu.

“Saya mengapresiasi setinggi-tingginya Tim Satgas Gabungan TNI-Polri atas keberhasilannya menewaskan Ali Kalora yang diduga pimpinan Teroris Poso. Keberhasilan ini tidak terlepas berkat kerjasama yang baik antara aparat TNI-Polri dengan masyarakat setempat,” katanya dalam perbincangan dengan wartawan di Jakarta, Rabu (22/9/2021).

Mantan Kadiv Humas Polri itu mengemukakan keterangan tersebut terkait keberhasilan Tim Satgas Gabungan TNI-Polri Madago Raya menewaskan Ali Kalora yang diduga sebagai pimpinan Teroris Poso dan Pimpinan MIT bersama anak buahnya, Jaka Ramadhan pada 18 September 2021. Pimpinan teroris sebelumnya (Santoso) juga tewas pad 2016.

Diketahui Ali Kalora dan Jaka Ramadhan tewas tertembak setelah terlibat baku tembak dengan Satgas Madago Raya, tepatnya di Desa Antina Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah pada 18 September 2021 pukul 18.15 WITA.

Dengan tewasnya Ali Kalora, menurut Anton Charliyan otomatis jaringan Teroris Poso dan MIT semakin lemah. Namun demikian operasi sapu bersih terhadap anak-anak buah pentolan Teroris Poso yang masih tersisa harus terus dilakukan.

“Masyarakat setempat sudah sangat jenuh dengan situasi di Poso. Mereka pun sudah mulai sadar akan arti pentingnya rasa aman dan hidup damai di lingkungannya,” kata Pengamat Kamtibmas yang kebetulan pada 2015-2016 ikut terlibat merumuskan operasi pertama di Poso yang diberi nama “Operasi Tinombala Poso”.

Anton Charliyan yang biasa disapa “Abah Anton” itu juga mengemukakan, operasi penumpasan Teroris Poso penuh tantangan. Selain medan yang sangat ekstrim, juga minimnya informasi karena rasa takut dan traumatik masyarakat terkait kekejaman telompok teroris itu.

Teroris Poso selalu melakukan tindakan-tindakan sadis terhadap masyarakat yang dianggapnya telah membantu aparat Pemerintah untuk memberikan informasi tentang keberadaan mereka, sehingga aparat mengalami kesulitan untuk mendapatkan informasi di lapangan.

Mantan Kapolda Jawa Barat itu lebih lanjut mengapresiasi para Komandan Satgas, baik TNI maupun Polri, karena keberhasilan operasi di Poso itu tidak terlepas dari sikap tegas para pimpinan di lapangan.

“Apalagi di Poso saat ini ada salah satu pucuk Pimpinan Satgas yang mengetahui betul situasi Poso dan sudah sangat berpengalaman bertugas di daerah itu, kalau tidak salah semenjak Pama sampai dengan Jenderal, yaitu Irjen Rudy Sufahriadi. Tentu saja tanpa mengecilkan pucuk-pucuk pimpinan lain yang sama besar perannya,” kata Abah Anton.

Mantan Analis Kebijakan Utama Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi Lembaga pendidikan dan Pelatihan (Sepimti Lemdiklat) Polri itu menilai, keberhasilan dalam sebuah operasi adalah berkat adanya kebersamaan semua pihak terkait sebagai satu tim yang kompak.

“Sekali lagi selamat dan sukses untuk semua tim tanpa kecuali. Semoga tewasnya pimpinan Teroris Poso akan menjadikan wilayah Sulteng aman, tenang, dan damai,” katanya.

Sebelumnya, Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Polisi Rudy Sufahriadi baru-batu ini mengatakan, karena pimpinan MIT Poso Ali Kalora sudah tewas, kini tidak ada lagi alasan bagi sisa kelompoknya (empat orang) untuk bertahan dalam pelarian serta berharap keempat DPO itu untuk segera menyerahkan diri kepada Satgas Madago Raya. (Indra)