Terpesona “Surga Dunia” Nihi Sumba, OC Kaligis Bilang Begini ke Sandiaga Uno

0
687
OC Kaligis saat menunggang kuda Sumba di Nihi Sumba Resort, Kabupaten Sumba Barat, NTT (dok.pribadi)

BERITA JAKARTA – Pengacara senior OC Kaligis mengungkapkan kekagumannya dengan pesona alam Nihi Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia menyebut resort yang berada di Desa Hoba Wawi, Wanakoka, Kabupaten Sumba Barat itu “The Paradise of the World” atau surga dunia. Sehingga tak salah jika banyak selebritas top dunia mengunjungi resort tersebut.

Kesan luar biasa saat berlibur ke Nihi Sumba, belum lama ini, ia sampaikan ke Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno dalam tulisannya.

“Konsep Nihi Sumba yang berhasil saya rekam adalah cinta lingkungan dan cinta masyarakat sekitarnya,” kata OC Kaligis dalam catatannya, Minggu (15/5/2022).

OC Kaligis juga menulis pesan kepada Bupati Sumba Barat, Yohanis Dade, agar dapat meningkatkan infrastruktur, khususnya meng-upgrade jalan ke resort-resort di Kabupaten Sumba Barat yang sedang berkembang pesat.

“Seandainya Bupati Sumba Barat Bapak Yohanis Dade kebetulan membaca kesan saya mengenai dunia pariwisata di Sumba Barat, kalau seandainya berkenan, saya usulkan agar jalan-jalan ke tempat resort, diperlebar dan kualitasnya di-upgrade,” katanya.

Mungkin, sambung OC Kaligis, dana APBD masih tersedia untuk tujuan tersebut, karena dengan demikian bapak Bupati, turut mempromosikan pariwisata Sumba Barat yang mendapat perhatian orang asing yang berlibur ke sana.

Dia menjelaskan, peduli lingkungan dan pemberdayaan masyarakat sekitar Nihi Sumba diimplementasikan dengan mendirikan Yayasan menurut hukum Amerika Serikat (AS) oleh pengelolanya.

“Sehingga dapat membantu masyarakat setempat dalam pendidikan, penyediaan air bersih, kesehatan dengan memerangi malaria yang di saat itu banyak merenggut nyawa manusia, nutirisi bagi bayi dan anak, hidup sehat dan banyak aktivitas lainnya yang bermanfaat bagi penduduk setempat,” jelasnya.

WN Amerika

Dia melanjutkan, sebagaimana Columbus menemukan Benua Amerika, Nihi Sumba ditemukan bukan oleh pribumi atau orang Indonesia. Penemu mutiara dari Indonesia adalah warga negara Amerika Serikat bernama Claude Graves bersama isterinya Petra.

“Claude Graves adalah peselencar kelas dunia berhasil menemukan ombak legendaris. Occy’s Left, dan karena jatuh cinta terhadap alam Sumba lalu bersama rekan konglomerat bernama Chris Burch dan rekan Mc Bride pada tahun 2012 mendirikan resort Nihi Sumba yang resmi dibuka pada tahun 2015,” terang OC Kaligis.

Bagi yang ingin ke Nihi Sumba, penerbangan langsung dari Jakarta sampai saat ini belum tersedia. Salah satu alternatif transportasi udara adalah Jakarta – Denpasar. Setelah transit di Denpasar kemudian menuju Sumba dengan menggunakan pesawat Nam Air atau Wing. Penerbangan memakan waktu sekitar satu setengan jam.

“Sejak mendarat, pegawai Nihi Sumba siap mengambil koper, mempersiapkan angkutan dengan sedikit kue kecil khas Sumba dan air kelapa muda,” ujarnya.

Sopir adalah warga Sumba asli yang sepanjang perjalanan bertindak sebagai guide, dengan tidak jemu-jemunya menjelaskan sedikit mengenai Sumba, budaya Sumba, misalnya kala seorang gadis dipinang, sang calon suami wajib memberi mahar berupa kuda Sumba, kerbau atau babi.

Sedangkan untuk upacara kematian, jenazah biasanya dimakamkan di halaman rumah keluarga yang meninggal. Sempat diperlihatkan kuburan-kuburan yang bentuknya segumpal batu besar persegi dengan sedikit bentuk diatasnya,” ujar OC Kaligis.

Selain itu, juga dijelaskan mengenai Posola. Budaya setempat semacam perang panah antara dua kelompok dengan saling mengendarai kuda Sumba.

Sesampai di resort, lanjut OC Kaligis, tamu disambut oleh Resort Manager Mdm. Madlen Ernest, bersama regunya. Mereka semua penduduk asli dengan ucapan selamat datang di Nihi Sumba. Karena beliau asal Swiss, saya sempat berkomunikasi dalam bahasa Jerman yang disambut dengan penuh semangat.

“Karena tamu-tamu yang berkunjung biasanya berbahasa Inggris. Keramahan pegawai Nihi Sumba sampai akhir libur para tamu. Suatu kenyataan yang membahagiakan dan tak terlupakan,” tutur pengacara segudang pengalaman ini.

Selamat berlibur

Di kamar tempat tamu menginap, lanjutnya, terdapat secarik post card bertuliskan “Selamat berlibur” dalam tulisan Bahasa Indonesia yang itandatangani Mdm. Madlen Ernest. Tersedia juga susunan acara sehari suntuk, termasuk memilih kuliner beragam rasa untuk waktu makan tiga kali sehari.

“Makan malam, tersedia di restaurant Boat House. Sedangkan untuk makan siang di Nio Beach Hotel, tempat sederhana dengan tiang tonggak dari bambu, atap alang-alang, lantai pasir putih. Semua restoran menghadap pantai, dimana para tamu dapat menyaksikan matahari terbenam,” terangnya.

Minuman non alkohol, kecuali bir tersedia cuma-cuma di lemari es setiap kamar tamu. Terdapat yoga yang dipimpin oleh seorang instruktur asing berparas cantik yang dapat diikuti setiap hari. Spa dan massage dapat dinikmati para tamu dengan durasi waktu 60 menit.

“Masih banyak kegiatan lainnya untuk mengisi waktu libur para tamu, seperti pelepasan kura-kura bayi, dan berkuda di sepanjang pantai dengan kedalaman kurang lebih setengah meter. Konon sekalipun kura-kura tersebut mengembara miliunan mil jauhnya, ketika akan bertelur kura-kura tersebut kembali ke tempat asalnya dimana semula kura-kura tersebut dilepaskan ke laut lepas,” katanya.

Pantai Pasir Putih

Rasa kagumnya kian bertambah saat pantai pasir putih tanpa sampah dapat dinikmati para pengunjung sekadar untuk berolahraga menelusuri pantai dengan deru ombak yang memecah memutih di ujung pesisir.

“Sepanjang kurang lebih tiga kilometer, tanpa gangguan pengunjung lain di luar Nihi Sumba. Saya jadi teringat akan Pantai Rio de Janeiro, ketika menonton Piala Dunia. Bedanya, Pantai Rio De Janeiro padat pengunjung, sedangkan pesisir Nihi Sumba hanya dinikmati oleh penghuni resort,” imbuhnya.

“Bila pengunjung asing berulang kali berlibur Ke Nihi Sumba, termasuk para selebritis dunia, saya kira tak perlu saya jelaskan, betapa indah alam Nihi Sumba dengan pelayanan bertaraf internasional tanpa mengabaikan budaya setempat,” pungkas OC Kaligis. (Dewi)