Korupsi Gadai Fiktif, Terdakwa “Sawer” Uang Rp5,7 Miliar Milik Pengadaian UPC Anggrek

0
586
Suasana Persidangan

BERITA JAKARTA – Ulah terdakwa Lusmeiriza Wahyudi mantan pimpinan PT Pegadaian UPC Anggrek Jakarta Barat yang kini diadili di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, terkait gadai fiktif sebesar Rp5,7 miliar, tergolong sadis.

Pasalnya, terdakwa Lusmeiriza pernah mengancam pimpinan PT pegadaian akan melakukan aksi teror dengan memanggil “preman bayaran” agar aksi kejahatannya tidak dilaporkan ke penegak hukum.

“Terdakwa pernah bilang ada masalah internal dan meminta untuk “membom” pimpinan di tempat dia bekerja,” kata saksi Rusdianto selaku paman dari terdakwa Lusmeiriza diruang sidang Wirjono Projodikoro, Rabu (25/5/2022).

Rusdianto menceritakan hal tersebut setelah Jaksa Penuntut Umum (JPU), M. Purnama Sofyan dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Barat, mengajukan pertanyaan soal “bom” dimaksud.

Menurut Rusdianto, niat jahat itu tidak terlaksana lantaran terbentur pembiayaan jasa preman. “Alhamdulillah tidak terjadi yang mulia,” ujarnya.

Setelah gagal upaya teror, Lusmeiriza kembali menempuh cara lain yakni menggunakan jasa paranormal. Tujuan penggunaan paranormal untuk menghilangkan sejumlah agunan gadai milik saksi Lilijun sebesar Rp800 juta.

“Benar pak Hakim, pada 17 April 2021 terdakwa minta kepada saya untuk dicarikan “orang pintar” untuk memindahkan barang,” aku saksi Yulia dihadapan Majelis Hakim.

Kemudian, Yulia bersama Andin dan terdakwa Lusmeiriza bertemu Uden konon sang dukun di daerah Bandung, Jawa Barat.

Dalam pertemuan itu, menurut keterangan Jaksa M. Purnama Sofyan didampingi Jaksa Febby Salahuddin bahwa dukun itu berhasil menghilangkan barang gadaian milik UPC Anggrek.

“Memang barang gadaian milik UPC Angrek berhasil dihilangkannya,” tutur Purnama kerap disapa seusai persidangan.

Dari sebagaian hasil patgulipat dana pegadaian di UPC Anggrek dipergunakan oleh Lusmeiriza untuk diberikan kepada saksi Rusdianto sebesar Rp180 juta melalui transfer dan senilai Rp25 juta tunai.

Kemudian saksi Yulia juga mendapatkan uang Rp27 juta dan saksi Seno suami dari Yulia, “kecipratan” Rp50 juta konon untuk membeli mobil. Sedangkan uang miliaran pun diduga telah dipergunakan oleh Lusmeiriza untuk kepentingan pribadinya.

Perlu diketahui, terdakwa Lusmeiriza Wahyudi didakwa karena diduga melakukan tindak pidana korupsi dengan modus gadai fiktif hingga mengambil barang jaminan, kemudian menyerahkan ke orang lain selama kurun waktu dua tahun pada 2019 hingga 2021.

Akibat perbuatannya, Lusmeiriza dijerat Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Jo Pasal 18 Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2001 Jo Pasal 55 ayat ke-1 KUHP. (Sofyan)