Macet Angsuran, Wanita 51 Tahun di Tengerang Diusir Dari Rumahnya    

0
767
Sumber: Wartakota.Tribun.com

BERITA TANGERANG – Nasib pilu seorang ibu berusia 51 tahun di Tangerang yang harus pergi dari rumah mewah miliknya gegara macet cicilan pinjaman uang disalah satu perushaan finance sebesar Rp200 juta pada 2016 silam.

Kepada media, kuasa hukum Rahmawati, Darmon Sipahutar menjelaskan, permasalahan bermula saat Rahmawati meminjam uang sebesar Rp200 juta pada sebuah perusahaan finance pada tahun 2016 silam dan telah membayar angsuran sekira Rp130 juta.

Namun, sambung Darmon, angsuran itu macet dan Rahmawati sempat meminta relaksasi, tapi tidak mendapat respon dari pihak perusahaan yang disebutnya telah dibekukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Itu kita akui ada kamacetan pembayaran, makanya menyampaikan surat ke perusahaan itu untuk diberikan relaksasi terhadap hutangnya, tapi tidak ada jawaban sama sekali,” kata Darmon, Rabu (1/11/2021).

Diungkapkan Darmon, piutang itu telah dijual perusahaan finance kepada J. Supriyanto yang merupakan pemilik balai lelang swasta Griya Lestari yang selanjutnya, J Supriyanto melelang rumah tersebut di Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Tangerang I yang kemudian dimenangkan Rasmidi dengan harga sebesar Rp725 juta.

Darmon menilai, harga rumah dua tingkat milik Rahmawati seluas 297 meter persegi tersebut seharusnya berada pada kisaran harga Rp3 miliar. Setelah memenangkan lelang, kuasa hukum Rasmidi, yakni SN mendatangi rumah Rahmawati pada 23 September 2021 lalu, guna menyampaikan bahwa kediamannya telah beralih tangan melalui tahap lelang.

Sebelumnya, SN melakukan somasi pada 27 September 2021 dan 2 Oktober 2021 dengan memberi peringatan kepada Rahmawati agar segera mengosongkan dan meninggalkan rumahnya itu. Selanjutnya, SN kembali ke rumah Rahmawati pada 6 Oktober 2021 dengan membawa puluhan orang untuk mengusir Rahmawati beserta keluarga secara paksa.

“Perlakuan yang dilakukan tersebut tidak sesuai dengan prosedur dan janggal. Pasalnya, eksekusi seharusnya dilakukan lewat jalur Pengadilan. Saat pengusiran yang dilakukan SN dengan sekelompok orang akhirnya ibu Rahmawati terpaksa meninggalkan rumahnya sendiri,” jelas Darmon.

Dikatakan Darmon, apabila dilelang, KPKNL seharusnya membuat permohonan untuk eksekusi rumah tersebut ke Pengadilan Negeri (PN) Tangerang. Namun, hal itu tidak dilakukan dan eksekusi justru dilakukan sepihak oleh SN tanpa melalui prosedur Pengadilan.

“Tapi ini agak lucu dan aneh, mereka lakukan eksekusi diluar Jalur pengadilan. Kami anggap Ini adalah eksekusi premanisme, karena melakukan cara – cara di luar prosedur hukum yang sudah diatur,” tegasnya.

Selain itu, tambah Darmon, pihaknya telah mendatangi alamat Rasmidi sebagai pemenang lelang rumah milik kliennya, Rahmawati namun yang bersangkutan tidak ada di alamatnya. Bahkan Ketua RW setempat membuat surat pernyataan bahwa tidak ada warga yang bernama Rasmidi yang tinggal diwilayahnya.

“Kita sudah datangi alamat rumah Rasmidi sebagai pemenang lelang namun yang bersangkutan tidak ada di alamatnya. Bahkan Ketua RW setempat sudah membuat surat pernyataan bahwa tidak ada warga yang bernama Rasmidi tinggal disitu,” pungkasnya. (Ind/Warta)